KENDARI — Universitas Mandala Waluya, khususnya Fakultas Manajemen, menggelar Festival Olahraga dan Seni Budaya 2026 yang meriah pada akhir Maret ini. Kegiatan yang berlangsung selama tiga hari penuh, dimulai dari Jumat hingga Minggu (31 Maret – 2 April 2026), menghadirkan berbagai cabang olahraga kompetitif dan pertunjukan seni budaya yang memukau. Acara ini diikuti oleh lebih dari 800 mahasiswa dari berbagai program studi di Fakultas Manajemen, serta mengundang partisipasi dari unit-unit lainnya di lingkungan Universitas Mandala Waluya.
Festival ini bukan sekadar ajang hiburan semata, melainkan merupakan bagian integral dari visi kampus untuk mengembangkan karakter mahasiswa yang holistik. Melalui kombinasi unik antara aktivitas fisik dan ekspresi seni budaya, universitas berkomitmen untuk membangun generasi pemimpin yang tidak hanya cerdas secara akademis, tetapi juga sehat secara jasmani dan kaya dalam apresiasi terhadap warisan budaya lokal.
Latar Belakang Penyelenggaraan Acara
Inisiatif penyelenggaraan Festival Olahraga dan Seni Budaya 2026 muncul dari evaluasi mendalam terhadap pengembangan soft skills mahasiswa Fakultas Manajemen. Menurut catatan dari Dekanat Fakultas Manajemen, program studi manajemen memerlukan lulusan yang tidak hanya memahami teori bisnis dan organisasi, tetapi juga memiliki kemampuan kepemimpinan, kerja sama tim, dan kesadaran budaya yang tinggi.
“Kami menyadari bahwa pembelajaran di kelas saja tidak cukup untuk membentuk manajer masa depan yang kompetitif,” ujar Dr. Bambang Sutrisno, Dekan Fakultas Manajemen Universitas Mandala Waluya, dalam acara pembukaan festival pada Jumat pagi (31 Maret 2026). “Olahraga dan seni budaya adalah dua pilar yang sempurna untuk mengembangkan disiplin, kreativitas, dan apresiasi terhadap nilai-nilai kemanusiaan.”
Festival ini juga merupakan respon konkret terhadap masukan dari alumni dan stakeholder industri yang menekankan pentingnya soft skills dalam dunia kerja modern. Data survei yang dilakukan oleh tim pengembangan kurikulum menunjukkan bahwa 85 persen perusahaan tempat alumni bekerja memprioritaskan kemampuan komunikasi, kepemimpinan tim, dan adaptabilitas budaya dalam proses rekrutmen dan promosi.
Rangkaian Kompetisi Olahraga yang Seru
Aspek olahraga dalam festival ini mencakup berbagai cabang yang dirancang untuk melibatkan mahasiswa dari latar belakang dan kemampuan fisik yang beragam. Kompetisi tidak hanya fokus pada prestasi tertinggi, melainkan juga pada nilai-nilai sportivitas dan inklusi.
Cabang olahraga yang dipertandingkan meliputi bola voli putra dan putri, sepak bola futsal, badminton, tenis meja, lari sprint dan lari jarak jauh, serta catur. Setiap cabang dilengkapi dengan aturan main yang ketat dan wasit bersertifikat untuk memastikan integritas kompetisi.
Salah satu momen spektakuler adalah pertandingan bola voli final putra antara Departemen Manajemen Pemasaran melawan Departemen Manajemen Keuangan pada Sabtu malam (1 April 2026). Pertandingan yang berlangsung selama 90 menit ini menghasilkan kemenangan dramatis bagi tim Manajemen Pemasaran dengan skor 3-2 di depan ribuan penonton yang memadati lapangan olahraga Universitas Mandala Waluya.
“Keseruan ini bukan hanya tentang menang atau kalah, tetapi tentang bagaimana kita belajar bekerja bersama dan saling mendukung,” kata Rizki Pratama, kapten tim bola voli Manajemen Pemasaran, usai pertandingan final. “Semua anggota tim punya peran penting, sama seperti dalam organisasi bisnis yang sesungguhnya.”
Selain itu, cabang lari jarak jauh 5 kilometer yang diselenggarakan pada Minggu pagi (2 April 2026) mencatat partisipasi 240 pelari, termasuk dosen dan staf administratif. Event ini menjadi momentum berharga untuk menyatukan seluruh civitas akademika Fakultas Manajemen dalam suasana yang inklusif dan menyegarkan.
Penampilan Seni Budaya yang Memukau
Jika kompetisi olahraga menampilkan semangat dan kompetitivitas, rangkaian seni budaya dalam festival ini menampilkan kreativitas dan apresiasi terhadap kekayaan budaya lokal Sulawesi Tenggara.
Pertunjukan membuka festival dimulai dengan tarian tradisional Zapin yang mempesona, menampilkan gerakan-gerakan anggun yang mencerminkan pengaruh budaya Arab dan lokal. Kelompok seni mahasiswa “Mandala Budaya” yang terdiri dari 35 penari tampil dengan kostum berwarna-warni yang mencuri perhatian seluruh audiens.
“Kami ingin menunjukkan bahwa apresiasi terhadap seni tradisional tidak bertentangan dengan semangat modernitas mahasiswa muda,” kata Siti Nurhaliza, ketua kelompok seni Mandala Budaya, dalam sela-sela latihan akhir sebelum penampilan. “Justru, memahami akar budaya kita membuat kita lebih kuat dan autentik sebagai individu dan pemimpin.”
Selanjutnya, parade busana bertajuk “Batik Modern Manajemen” menampilkan kreativitas mahasiswa dalam mendesain pakaian batik kontemporer yang menggabungkan motif tradisional dengan estetika urban. Setiap desain diiringi dengan narasi yang menjelaskan filosofi dan makna di balik setiap motif, menciptakan pengalaman edukatif sekaligus artistik bagi penonton.
Acara puncak seni budaya adalah konser musik yang menampilkan berbagai genre, mulai dari musik tradisional Sulawesi, dangdut koplo yang enerjik, hingga musik modern dan indie. Penampilan live band “Mandala Rhythm,” grup musik yang didirikan oleh mahasiswa Manajemen Sumber Daya Manusia, berhasil menggerakkan ribuan penonton untuk bergoyang dan menyanyikan lagu-lagu populer mereka.
Kutipan dan Perspektif Pejabat Kampus
Dr. Bambang Sutrisno, dalam kesempatan wawancara khusus, mengungkapkan filosofi mendalam di balik penyelenggaraan festival ini. “Universitas Mandala Waluya percaya bahwa pendidikan manajemen harus menghasilkan individu yang seimbang. Seorang manajer yang baik harus memiliki tubuh yang sehat, pikiran yang jernih, dan roh yang kaya,” ujarnya dengan penekanan yang jelas.
Menambahkan perspektif lain, Ibu Dr. Sinta Wijaya, Wakil Dekan Bidang Kemahasiswaan Fakultas Manajemen, menekankan dampak jangka panjang dari festival ini. “Kami melihat bahwa mahasiswa yang aktif dalam kegiatan olahraga dan seni budaya menunjukkan peningkatan signifikan dalam prestasi akademik dan pengembangan karakter. Mereka lebih percaya diri, lebih komunikatif, dan lebih mampu beradaptasi dengan berbagai situasi,” kata Dr. Sinta dengan data yang didukung oleh hasil riset internal.
Kepala Unit Kemahasiswaan Universitas Mandala Waluya, Drs. Hendra Saputro, M.Pd., juga memberikan dukungan penuh terhadap inisiatif ini. “Program ini sejalan dengan kebijakan universitas yang menekankan balanced education. Kami tidak hanya ingin menghasilkan lulusan yang cerdas, tetapi juga yang berkarakter, sehat, dan berjiwa kepemimpinan,” jelasnya.
Dampak dan Manfaat bagi Mahasiswa
Feedback dari mahasiswa yang terlibat dalam festival menunjukkan antusiasme yang luar biasa tinggi. Survei cepat yang dilakukan oleh panitia penyelenggaraan menunjukkan bahwa 92 persen peserta merasa kegiatan ini memberikan manfaat signifikan bagi pengembangan pribadi mereka.
Amin Wijaya, mahasiswa semester lima Departemen Manajemen Pemasaran, berbagi pengalamannya: “Ketika saya bermain bola voli, saya belajar bahwa setiap orang memiliki peran yang unik dan penting. Dalam bisnis kelak, prinsip ini akan membantu saya membangun tim yang solid dan produktif. Di sisi lain, menonton pertunjukan seni budaya memberikan saya perspektif baru tentang kreativitas dan inovasi.”
Sementara itu, Dewi Lestari, mahasiswa Departemen Manajemen Sumber Daya Manusia yang tampil dalam penampilan tarian tradisional, mengungkapkan transformasi pribadi yang dialaminya. “Awalnya saya gugup tampil di depan ribuan orang. Tetapi proses latihan dan dukungan dari teman-teman tim memberikan saya kepercayaan diri yang belum pernah saya miliki sebelumnya. Ini adalah pengalaman berharga yang akan saya bawa ke karir profesional saya,” katanya dengan mata berbinar.
Dari perspektif akademik, Dr. Bambang Sutrisno melaporkan bahwa ada rencana untuk mengintegrasikan pembelajaran dari festival ini ke dalam kurikulum. “Kami sedang mengembangkan modul pembelajaran yang menghubungkan pengalaman praktik olahraga dan seni budaya dengan teori manajemen dan kepemimpinan. Mahasiswa akan mendokumentasikan pembelajaran mereka dan melakukan refleksi kritis terhadap pengalaman tersebut,” jelasnya.
Penutup: Fondasi untuk Kepemimpinan Masa Depan
Festival Olahraga dan Seni Budaya 2026 yang diselenggarakan oleh Fakultas Manajemen Universitas Mandala Waluya di Kendari ini tidak sekadar acara seremonial belaka. Acara ini mencerminkan komitmen serius kampus terhadap pengembangan holistik mahasiswa sebagai calon pemimpin yang berkualitas.
Dengan mengintegrasikan elemen kesehatan fisik, kreativitas artistik, dan apresiasi budaya ke dalam pengalaman belajar mahasiswa, Universitas Mandala Waluya mendemonstrasikan pemahaman mendalam tentang kebutuhan industri modern yang menginginkan lulusan yang tidak hanya kompeten secara teknis, tetapi juga emosional dan kultural.
Rencana ke depan juga menunjukkan bahwa ini hanya awal dari sebuah gerakan yang lebih besar. Dekanat Fakultas Manajemen telah mengumumkan rencana untuk menjadikan festival ini sebagai agenda tahunan yang akan terus dikembangkan dan ditingkatkan. Bahkan, ada diskusi awal untuk mengundang universitas lain di Sulawesi Tenggara untuk berpartisipasi, sehingga menciptakan platform regional untuk pertukaran budaya dan pengembangan kepemimpinan.
Sebagai penutup, kata-kata inspiratif dari Dr. Bambang Sutrisno tetap bergema: “Seorang manajer yang baik harus bisa menginspirasi, beradaptasi, dan memimpin dengan nilai-nilai kemanusiaan. Festival seperti ini adalah laboratorium nyata di mana mahasiswa kami belajar untuk menjadi versi terbaik dari diri mereka sendiri.”
Dengan semangat yang membara dan komitmen yang kuat, Fakultas Manajemen Universitas Mandala Waluya terus berusaha membangun ekosistem pembelajaran yang membentuk pemimpin masa depan yang tidak hanya pintar, tetapi juga berkarakter, sehat, dan bijaksana.
—Selesai—